Bukan Film Horor, “Pesugihan Sate Gagak” Siap Jadi ObatManjur Bikin Tertawa Satu IndonesiaAksi ‘Trio Gagak’ Bikin Ngakak Mulai 13 November 2025 Di Bioskop
Bukan Film Horor, “Pesugihan Sate Gagak” Siap Jadi Obat
Manjur Bikin Tertawa Satu Indonesia
Aksi ‘Trio Gagak’ Bikin Ngakak Mulai 13 November 2025 Di Bioskop
Jakarta, 5 November 2025 - Cerita tentang pesugihan sering kali identik dengan tumbal manusia dan kisah yang mencekam. Namun, film terbaru produksi Cahaya Pictures dan BASE Entertainment, berkolaborasi dengan PK Films, Arendi, Laspro, IFI Sinema, dan Anami Films, berjudul Pesugihan Sate Gagak, justru mengemas tema itu dalam balutan
komedi horor super ringan yang menjadi obat penghilang stres buat penonton.
Hidup susah, utang menumpuk, dan cinta terancam gagal. Itulah nasib trio gagak, Anto (Ardit Erwandha), Dimas (Yono Bakrie), dan Indra (Benidictus Siregar) yang menjadi awal kisah Pesugihan Sate Gagak. Mereka pun resmi capek miskin!
Selain dibintangi oleh Ardit Erwandha, Yono Bakrie, dan Benidictus Siregar sebagai pemain utama, film ini juga didukung oleh Yoriko Angeline, Nunung, Arief Didu, Firza Valaza, serta diramaikan Arif Alfiansyah, Ence Bagus, Niniek Arum, Akbar Kobar dan
Ciaxmen.
Pesugihan Tanpa Tumbal, Demit Sakau Sate!
Jika biasanya makhluk halus dalam cerita pesugihan mengejar nyawa manusia, di film ini mereka malah antre layaknya pembeli setia warung. Ritual telanjang, hantu-hantu ketagihan, dan kekacauan absurd di warung sate menjadi sumber tawa sepanjang film.
Anto butuh mahar puluhan juta demi menikahi kekasihnya, Dimas ingin menolong usaha ibunya, dan Indra terjerat pinjol sampai leher. Dalam keputusasaan itu, mereka menemukan buku mantra pesugihan kuno peninggalan kakek Indra. Dari situ lahir ide paling gila: coba pesugihan tanpa tumbal, cukup jual sate dari daging burung gagak ke demit! Namun bukannya berakhir bahagia, para demit justru ketagihan sate dan terus
datang menagih.
Aksi Kocak Trio Gagak & Pengalaman Jadi Pemeran Utama
Kekuatan film ini bertumpu pada tiga komika ternama: Ardit Erwandha, Yono Bakrie, dan Benedictus Siregar yang berperan sebagai Trio Gagak. Untuk pertama kali, ketiganya tampil sebagai pemeran utama dalam satu film layar lebar. Chemistry alami mereka memunculkan dinamika persahabatan yang cair dan komedi yang spontan
membuat setiap adegan terasa hidup, lucu, sekaligus hangat di tengah absurditas cerita. Terlebih beradu akting dengan kondisi telanjang menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain.
“Berakting komedi sudah biasa saya lakukan di film-film sebelumnya, tapi berakting komedi sekaligus horor sambil telanjang, sepertinya cuma akan terjadi di film ini,” ujar Ardit Erwandha, pemeran Anto. “Ini jadi tantangan sekaligus cara saya keluar dari zona nyaman. Buat kami bertiga, ini bentuk totalitas dan keseriusan sebagai aktor.”
Yono Bakrie menambahkan bahwa ini adalah kesempatan langka baginya untuk
dipercaya sebagai pemeran utama. Sebelumnya, ia lebih sering tampil sebagai pemeran pendukung atau cameo. Ia juga mengakui bahwa cerita film ini sangat dekat dengan pengalaman hidupnya di masa lalu.
“Nyari duit susah itu memang benar adanya. Sebelum merantau ke Jakarta, saya pernah mengalami berbagai kesulitan ekonomi dan harus membantu orang tua agar bisa bertahan hidup. Kedekatan saya dengan cerita ini sangat membantu saya dalam mendalami karakter Dimas”, kata Yono.
Sementara itu, Benidictus Siregar mengakui bahwa proyek ini terasa sangat spesial baginya. Dari berbagai peran yang pernah ia mainkan, Beni lebih sering tampil dalam genre komedi. Namun, di film ini ia justru ditantang untuk menampilkan sisi drama yang jarang ia eksplor sebelumnya. “Meskipun unsur komedinya cukup kuat dan saya juga banyak bertemu dengan para
komika, di film ini ternyata saya harus menampilkan adegan drama — sesuatu yang jarang saya lakukan sebelumnya. Itu yang membuat Pesugihan Sate Gagak jadi salah satu proyek yang paling spesial sepanjang karir berakting saya”, ungkap Beni.
Debut Penyutradaraan Dua Sutradara Berbakat
Pesugihan Sate Gagak menjadi panggung debut penyutradaraan layar lebar bagi
Etienne Caesar (EC) dan Dono Pradana (Dono). Sebelumnya, Etienne telah
berpengalaman sebagai asisten sutradara di berbagai produksi film, sementara Dono
dikenal sebagai kreator konten sekaligus komika asal Surabaya. Keduanya membawa kekuatan tersendiri dalam menggarap film ini.
Dengan bekal pengalamannya, Etienne Caesar berhasil menghadirkan rangkaian
adegan yang membekas dan mampu mengarahkan para pemain untuk tampil maksimal terutama keluar dari zona nyaman mereka di ranah komedi menjadi drama.
“Salah satu adegan yang menurut saya luar biasa adalah adegan drama yang dimainkan oleh Trio Gagak. Kemampuan tiga aktor itu keluar dari zona nyaman mereka patut diapresiasi. Bagi saya, adegan yang baik tidak hanya lahir dari komposisi teknis yang mumpuni, tetapi juga dari permainan emosi para pemainnya,” jelas EC, yang sebelumnya pernah bekerja sama dengan Ernest Prakasa.
Melengkapi visi penyutradaraan EC, Dono Pradana berangkat dari sensitivitasnya
dalam membaca keresahan banyak orang terhadap tekanan hidup, utang, dan keinginan untuk cepat sukses. Melalui film ini, Dono ingin menghadirkan potret sosial dengan cara yang ringan, dekat, dan tetap menghibur.
“Buat saya, film ini bukan tentang menghalalkan pesugihan, tapi tentang bagaimana orang bisa tersesat ketika terlalu tertekan oleh hidup. Lewat pendekatan komedi, kami ingin mengajak penonton melihat realitas itu dengan cara yang ringan dan mudah. Hal
yang ringan dan mudah dalam hidup ini ya tertawa bersama,” tutur Dono.
Relevansi Nyata Potret Masyarakat
Meski dikemas dengan humor yang ngawur dan absurd, Pesugihan Sate Gagak
sejatinya menyoroti realitas sosial yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang Indonesia. Desakan ekonomi, tekanan sosial untuk terlihat sukses, hingga mentalitas “yang penting cepat kaya” menjadi latar yang relevan dan mudah dikenali penonton.
“Premis tentang para demit yang ketagihan sate, dipadukan dengan ritual absurd yang mengharuskan pesertanya telanjang, menjadi alasan utama kenapa kami di Cahaya Pictures begitu jatuh cinta pada cerita ini. Ada keabsurdan, kegilaan, namun juga jadi
potret sosial masyarakat sekarang. Ini pure bukan film horor, tapi sebuah feel good movie yang akan mudah disukai banyak orang. Kami berharap film ini bukan cuman sebagai film, tapi juga punya pesan positif dan jadi optimisme di tengah kesulitan ekonomi yang dialami banyak orang”, papar Aoura Lovenson, produser film Pesugihan Sate Gagak.”
Selain itu, film ini harapannya bisa menyadarkan penonton jika sesuatu yang niatnya benar namun dilakukan dengan cara yang salah maka akan berakhir tidak baik. Maka, cara instan yang salah seharusnya diganti dengan kerja keras dan rasa syukur.
Pesugihan Sate Gagak akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 13 November 2025, dan pembelian tiket untuk hari pertama sudah bisa dilakukan mulai 9 November 2025. Awas Ketagihan!
SINOPSIS PESUGIHAN SATE GAGAK
Hidup susah, utang menumpuk, dan cinta terancam gagal — tiga sahabat Anto (Ardit
Erwand ha), Dimas (Yono Bakrie), dan Indra (Benidictus Siregar) alias Trio Gagak resmi capek miskin!
Anto butuh mahar puluhan juta demi menikahi kekasihnya Andini (Yoriko Angeline), Dimas ingin menolong usaha ibunya, dan Indra terjerat pinjol sampai leher.
Dalam keputusasaan itu, mereka menemukan buku mantra pesugihan kuno
peninggalan kakek Indra. Dari situ lahir ide paling gila: coba pesugihan tanpa tumbal — cukup jual sate dari daging burung gagak ke demit!
Awalnya mereka nekat mencoba jalan pintas agar bisa keluar dari lilitan hidup — dan tiba-tiba, pembeli pertama mereka datang... bukan dari dunia manusia! Genderuwo, pocong, sampai kuntilanak antre dan rela bayar mahal untuk sate gagak mereka.
Trio Gagak mendadak kaya raya: utang lunas, hidup mapan, bahkan cinta Anto dan Andini sempat terasa bahagia. Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama — rahasia pesugihan yang disembunyikan, perlahan menghancurkan semuanya. Tawa mereka berubah jadi ketakutan saat para demit tak berhenti datang dan terus menagih sate — lapar, rakus, dan tak terkendali!
Apakah mereka akan lanjutkan pesugihan demi kekayaan, atau kabur sebelum dimakan keserakahan?
INFORMASI FILM
Judul: Pesugihan Sate Gagak
Genre: Komedi Horor
Sutradara: Etienne Caesar & Dono Pradana
Penulis: Nuugro Agung
Produser: Aoura Lovenson Chandra, Fauzar Nurdin
Pemeran: Ardit Erwandha, Yono Bakrie, Benidictus Siregar, Yoriko Angeline, Nunung,
Arief Didu, Firza Valaza
Produksi: Cahaya Pictures
Rilis bioskop: 13 November 2025
AKUN MEDIA SOSIAL
Instagram: @filmsategagak | @cahayapictures_id
TikTok: @cahayapicturesid
Hashtag: #AwasKetagihan #SateGagakBikinKayaMendadak #PesugihanSateGagak
CAHAYA PICTURES
Cahaya Pictures adalah rumah produksi yang berkomitmen menghadirkan kisah-kisah
feel good yang mampu menghangatkan hati dan memberikan harapan baru bagi
penontonnya. Setiap film yang diproduksi Cahaya Pictures selalu mengandung
semangat “light at the end of the tunnel” — keyakinan bahwa di balik setiap tantangan,
selalu ada secercah cahaya yang menuntun kita pada akhir yang lebih baik.
Melalui karya-karyanya, Cahaya Pictures ingin menginspirasi penonton untuk melihat
sisi terang dalam kehidupan, serta menumbuhkan rasa optimisme dan kebersamaan
lewat cerita-cerita yang relevan dengan pengalaman masyarakat Indonesia.
PK FILMS
PK Films merupakan manifestasi strategis terbaru dari PK Entertainment Group, sebuah nama yang telah mengukir jejak gemilang selama satu dekade terakhir dalam membangun dan mengembangkan industri kreatif (konser, hiburan, dan event) di Indonesia. Dengan pengalaman panjang dalam menghadirkan hiburan berkualitas
tinggi, PK Films hadir sebagai langkah strategis untuk turut serta mengembangkan ekosistem perfilman Indonesia.
Film "Agen +62" merupakan salah satu karya yang telah diluncurkan oleh PK Films, bukti nyata dedikasi kami untuk menghadirkan karya bagi para penikmat film di Indonesia dan dunia. PK Films terus menjalin kolaborasi strategis dengan talenta paling cemerlang dan rumah produksi terkemuka di tanah air, demi mendorong kemajuan industri film
nasional ke tingkat global.
Proyek mendatang kami, "Sate Gagak", sebuah kolaborasi seru dengan BASE
Entertainment! Bersiaplah untuk pengalaman komedi yang santai dan segar yang akan
memukau penonton.
ARENDI CIPTA INTERNASIONAL
Arendi berdedikasi untuk menciptakan seni pertunjukan dan pengalaman edutainment yang dinamis. Sejak awal berdirinya, ARENDI telah berkembang menjadi salah satu lembaga seni dengan pertumbuhan tercepat di Jakarta, yang berdedikasi pada misi memberikan pengalaman seni pertunjukan tingkat tertinggi – pendidikan dan pelatihan
seni pertunjukan terbaik di Indonesia.
Arendi melibatkan siswa dengan seni pertunjukan dan komunitas kreatif lokal dan internasional. Arendi baru-baru ini mengikuti kompetisi internasional ternama seperti Asia Pacific Arts Festival, untuk mewakili Indonesia dan membawa pulang Distinction Award, Gold Awards, dan Silver Awards. Memberdayakan siswa melalui serangkaian program pelatihan terkonsentrasi, lokakarya interaktif, program kompetisi, kelas master
dan acara musik khusus lainnya.
LASPRO MEDIA SINEMA
Laspro Media Sinema adalah perusahaan penyewaan peralatan film dan televisi
terbesar dan terlengkap di Indonesia. Sejak berdiri, Laspro telah menjadi mitra utama bagi rumah produksi, stasiun televisi, dan sineas-sineas terkemuka di Tanah Air dalam merealisasikan karya-karya visual berkualitas tinggi.
Dengan dukungan teknologi terkini dan tim teknis profesional berpengalaman, Laspro
menyediakan beragam peralatan produksi—mulai dari kamera sinema digital, lensa
sinematik, pencahayaan profesional, grip & rigging, hingga sistem audio dan monitoring mutakhir. Komitmen kami adalah menghadirkan solusi teknis yang andal, fleksibel, dan berkualitas tinggi, serta memberikan solusi cepat untuk semua kebutuhan produksi—mulai dari skala kecil hingga megaproduksi layar lebar.
Mengusung tagline "High Quality, Fast Solution", Laspro selalu mengutamakan pelayanan unggulan dan efisiensi untuk mendukung kesuksesan setiap proyek produksi.
Kami bangga telah menjadi bagian dari ratusan produksi film, serial, dokumenter, iklan, hingga tayangan live TV berskala nasional maupun internasional.
IFI SINEMA
IFI Sinema telah berkecimpung dalam industri sejak tahun 2007 melalui film-film
produksinya berjudul ‘Coklat Stroberi’ (2007), ‘Radit dan Jani dan ‘3 Doa dan 3 Cinta (2008), ‘Coblos Cinta’ (2008), ‘Serigala Terakhir’ (2009), ‘Lovely Man’ (2012), ‘Mika’ (2013),‘Pertaruhan’ (2017), ‘My Generation’ (2018), ‘Menunggu Pagi’ (2019), ‘Seperti Hujan yang Jatuh di atas Bumi’ (2020), ‘Akad’ (2021); ‘Mohon Doa Restu’ (2024); saat ini IFI Sinema juga berperan aktif dalam pembiayaan film nasional
ANAMI FILMS
Anami Films didirikan pada Februari 2018 sebagai bagian dari KNS Group of Companies di Indonesia, yang memiliki jangkauan global dengan kantor di Singapura, India, Australia, Dubai, dan Afrika, mencakup berbagai industri seperti hiburan, perbankan & keuangan, properti & real estate, perdagangan & distribusi, serta manufaktur.
Di Anami Films, kami berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman sinematik yang luar biasa, baik untuk layar lebar maupun platform Over-the-Top (OTT) serta berbagai media lainnya. Dengan dedikasi tinggi terhadap kreativitas dan ketepatan, kami menyuntikkan setiap proyek dengan perpaduan semangat dan inovasi, memastikan setiap adegan mampu memikat dan menginspirasi penonton di berbagai platform.
Kami telah merilis berbagai film seperti Hotel Mumbai (saat ini tayang di Netflix), Pretty Boys, AIB Cyberbully, dan Kalian Pantas Mati (saat ini juga tayang di Netflix), Kuasa Gelap, Bayang-Bayang Anak Jahanam, serta beberapa judul OTT seperti Kitab Kencan (Vidio), My Comic Boyfriend (Vision+), dan Kenapa Gue (Vidio).
Komentar
Posting Komentar